Sabtu, 22 September 2018

LAGU SAHABAT

Sahabat 
Cipt :Fajria Haniifah


C                           F     Dm
Kaulah sahabat terbaikku 

            Am                    C
Dalam suka maupun duka

C                             F      Dm
Kau yang selalu bersamaku

            Am                  C
Dalam setiap hari-hariku

C                   F           Dm
Bersamamu aku mampu
         Am                   C
Meraih semua anganku

C                        F             Dm
Tak kan pernah aku lupakan 

           Am                   C
Kisah kasih kita bersama

Reff:

          C                 F
Tanpamu aku hampa

          Dm       G
Tak bisa apa-apa

          C                    F
Teruslah di sampingku

          Dm           G
Menjadi sahabatku

     C
Kawan

RESENSI SALAT OLAHRAGA AMPUH UNTUK DIABETES MELITUS




Judul Buku              : Salat Olahraga Ampuh untuk Diabetes Melitus           
Pengarang               : Mohammad Ghoffar
Penerbit                  : Graha Ilmu
Tahun terbit            : 2012
Kota terbit              : Yogyakarta
Jumlah halaman     : 151 + xi halaman







Buku berjudul "Salat Olahraga Ampuh untuk Diabetes Melitus " ini ditulis dalam upaya mempublikasikan manfaat dan keampuhan geraka salat untuk mengobati diabets melitus sehingga penderita diabetes melitus tidak harus bingung melakukan olahraga seperti apa ketika terdiagnosa diabetes melitus. Metode ini merupakan temuan baru dalam pengobatan diabetes mellitus yang diilhami peneliti ilmiah. Pembaca akan lebih tahu tentang jenis jenis dan jumlah gerakan dalam salat yang dilakukan pelaksana salat , meliputi : gerakan yang melibatkan otot besar hingga anggota tubuh terkecil. Dengan membaca buku ini masyarakat diharapkan semakin tahu , bahwa Islam adalah agama Rahmatlil'alamin yang membawa sejuta manfaat dengan syariat yang diajarkan , bukan agama teror yang suka kekerasan seperti yang terdengar saat ini.
Selain itu di buku ini juga dibahas secara mendetail mengenai manfaat gerakan salat bagi kesehatan tidak hanya untuk mengobati diabetes melitus.  penggunaan bahasa yang digunakan juga terkesan santai. Sehingga bahasa yang digunakan itu tidak terkesan menggurui. Walaupun bahasa yang digunakan santai namun tetap memperhatikan EYD. Kekurangan dalam buku ini yaitu tidak disertai gambar-gambar yang berwarna sehingga akan lebih menarik perhatian pembaca.

Sumber : besmart.uny.ac.id
                 http://uny.ac.id
                  http://library.uny.ac.id

Jumat, 21 September 2018

Buah kesabaran Tutut

Matahari telah menampakkan sinarnya. Kicauan burung burung mulai bersahut-sahutan. Di seberang danau terlihat seorang gadis cilik bermata biru. Hidungnya yang mancung menambah pesonanya. Dibalut dengan pakaian syar'i menandakan betapa mulianya dirinya. Sempurna, namun sempurna hatinya tidak sepadan dengan keadaan fisiknya. Alvita Nirwani, ya itulah namanya. Orang orang sering memanggilnya dengan nama Tutut. Nama panggilan yang terdengar aneh mungkin, karena namanya tidak mengandung nama "Tutut". Hal ini mungkin karena kebiasaan yang ia jalani yaitu berjualan bakpia tutut. 
Tutut berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun hal tersebut tidak menjadi penghalang baginya untuk menuntut ilmu. Tutut sekolah di sekolah formal tidak seperti anak disabilitas lainnya yang bersekolah di sekolah khusus. Tutut memang mempunyai kekurang fisik yaitu ia tidak dapat mendengar dengan telinga kanannya. Namun, Alhamdulillah telinga kirinya masih bisa berfungsi dengan baik. Namun walaupun hanya sebelah Tutut tetap menggunakan alat bantu pendengaran. Dengan keterbatasan yang ia miliki Tutut mampu bersaing dengan anak yang normal lainnya. 
Hari ini hari Senin, seperti biasanya Tutut bangun pagi-pagi sekali. Diambillah handuknya dan mandilah Tutut. Tidak butuh lama untuknya melakukan hal tersebut. Dia tidak mau keterbatasannya menjadikannya manja. Ia melakukannya sendiri.
"Tok tok tok. Tut sudah pagi ayo bangun" tutur ibunya dari balik pintu
"Sudah bangun Bu, ini aku lagi mandi" jawab Tutut dengan sedikit berteriak
"Baiklah , Ibu tunggu di ruang makan" 
"Siap Bu" katanya sambil mengambil sikap hormat
Selesai mandi Tutut bergegas menuju ke ruang makan. Semuanya sudah berkumpul tinggal menunggu Tutut. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara keluarga ini. Mereka sibuk dengan makanannya masing-masing. Tutut merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara. Mempunyai seorang adik manis yang menggemaskan dan kakak kakak yang baik adalah impiannya. Namun hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kakak kakak Tutut merasa iri dengannya karena ia selalu mendapat perhatian dan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya. Dulu mereka menerima hal tersebut karena mereka merasa memang Tutut lebih membutuhkan. Namun, lama kelamaan mereka menjadi iri dan tidak senang dengan kehadiran Tutut yang bagi mereka hanya menjadi benalu dalam keluarganya. Namun Tutut tidak pantang menyerah ia selalu mencari cara agar dekat dengan kedua kakaknya tersebut. 
Acara sarapan telah usai, satu persatu keluarga Tutut pun pergi menuju kegiatannya masing-masing. Begitu pula dengan Tutut ia juga pergi sekolah hari ini. Tutut berpamitan kepada orang tuanya.
"Assalamu'alaikum Pak, Bu" pamit tutut tidak lupa dengan mencium tangan kedua orang tuanya
"Wa'alikumussalam Wr. Wb " ucap ayah dan ibu Tutut berbarengan 
"Hati-hati di jalan Nak. Sekolah yang benar, ingatlah Tut tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh niscaya kamu akan mendapatkan hasilnya" tutur ayahnya
"Baik ayah, insyaAllah Tutut selalu ingat nasehat Ayah" jawab Tutut dengan senyum yang mengembang di wajahnya
Hanya membutuhkan 20 menit Tutut sampai di sekolah. Di sekolah Tutut memiliki seorang sahabat yaitu Putri. Mereka selalu bersama-sama dimanapun dan kemanapun. Putri berasal dari keluarga yang berada. Ayahnya seorang pengusaha ternama dan ibunya yang bekerja sebagai dokter. Walaupun berasal dari keluarga yang berada Putri tidak memilih dalam berteman. Dia selalu terlihat akrab dengan siapapun entah itu orang kaya atau miskin. 
Tutut pun menuju ke kelasnya. Sesampainya di sana hanya terlihat beberapa teman yang tidak terlalu akrab dengan Tutut. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, namun Putri tak kunjung datang juga. Tutut merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Sudah berkali kali ia mencoba menghubunginya lewat telepon, namun tak ada respon sama sekali. 
Bel tanda masuk telah berbunyi namun tak ada tanda tanda kedatangan Putri. Guru pengampu pelajaran memasuki kelas.
" Assalamu'alaikum Wr. Wb anak anak" sapa Bu Fitri
"Wa'alikumussalam Wr. Wb " sahut murid bersama sama
"Baiklah kita akan memulai pelajaran pada pagi hari ini, namun ibu akan melakukan absen terlebih dahulu" lanjut Bu Fitri
"Lho Putri dimana ini kok belum kelihatan? " tanya Bu Fitri
Tak lama dari itu terdengar ketukan pintu dari luar kelas. Bu Fitri kemudian membukanya. Ternyata Putri datang terlambat . Semua orang heran dengan Putri tak terkecuali Tutut sahabatnya. Tidak biasanya dia datang terlambat. Setelah diberi hukuman Putri pun diijinkan kembali untuk mengikuti pelajaran. 
Kriiiiingg. Bel istirahat pun berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas tidak terkecuali Tutut dan Putri. Mereka menuju kantin bersama-sama. Tak lupa Tutut juga membawa dagangan yang telah ia bawa dari rumah untuk dititipkan di kantin. Ia tidak merasa malu sedikitpun. Setelah itu, mereka  memesan makanan dan minuman ringan. 
"Put kamu tadi kenapa kok terlambat? " tanya Tutut
" Soalnya tadi aku nungguin ayah dulu dan jadinya aku terlambat deh" sahut Putri 
" Oo.. begitu yaa" balas Tutut
" Iya Tut" jawab Putri 
Bel tanda masuk pun berbunyi. Anak-anak bergegas menuju kelasnya masing-masing. Mereka melanjutkan pembelajaran yang sempat tertunda tadi. Kriiiinggg. Waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Hari ini adalah hari Jumat jadi murid kelas XI ada kegiatan ektrakurikuler pramuka. Tutut pun bersiap-siap untuk mengikuti ekstrakurikuler ini. 
Kegiatan ekstrakurikuler dimulai dengan upacara pembukaan seperti biasanya. Murid-murid sangat antusias mengikuti ekstra ini , buktinya saja walaupun cuaca sangat terik hari ini tapi mereka tetap mengikuti upacara dengan khidmat. Kakak pembina pun menyampaikan amanatnya, beliau berpesan bahwa pekan depan akan diadakan kegiatan Persami. Adik-adik menyambutnya dengan sangat gembira. Upacara telah selesai kemudian dibagi kelompok untuk mempersiapkan kegiatan Persami minggu depan. 
"Tut kamu sekelompok dengan siapa? " tanya Putri
" Aku sekelompok dengan Rita, Nina, Farah, Rani, Varel, Lutfu, dan Tania" jawab Tutut
" Oo begitu ya Tut, yah kita nggak bisa sekelompo deh" kata Putri
" Iya Put, nggak papalah kita nggak sekelompok. Toh kita kesananya juga bareng kan" jawab Tutut
" Iya Tut" sahut Putri
Ekstrakurikuler Pramuka pun telah usai. Anak-anak kelas XI beramai-ramai hingga hilir mudik ke sana sini untuk mempersiapkan acara Persami. Ada yang mendiskusikan bagaimana mereka akan makan di sana, bagaimana mau tidur , dan masih banyak lagi perbincangan yang terjadi diantara mereka.
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Hari ini siswa kelas XI akan melaksanakan kegiatan Persami. Sebelumnya Tutut berpamitan kepada kedua orang tuanya. Tutut mencium tangan mereka dan ibu Tutut sangat bersedih ketika melihat anaknya akan pergi. Memang kesannya seperti berlebihan namun hal itu dikarenakan baru pertama kalinya Tutut tidak akan tinggal bersama orang tuanya. Ibunya menangis terisak, Tutut merasa iba dengan ibunya namun ia harus tegar dan kuat dihadapan mereka agar membuktikan bahwa Tutut bisa mandiri. 
Tututpun berjalan menuju bus kelompoknya. Ketika memasuki bus, Tutut memandangi seisi bus. Namun, ketika ia hendak mencari Putri ternyata Putri telah duduk dengan orang lain. Di dalam bus hanya tersisa satu tempat duduk. Tututpun kemudian duduk dengan orang yang tidak begitu akrab dengannya. Disisi lain Putri juga kebingungan mencari keadaan Tutut. Ketika ia menengok kebelakang ternyata Tutut telah duduk orang lain. Putri merasa sedih. Hatinya bergejolak. Ia tak menyangka Tutut memilih duduk dengan orang lain dibandingkan dengan dirinya. 
Beberapa jam kemudian bis telah sampai di tempat perkemahan. Anak-anak bergegas turun dari bus. Pembina pramuka menyuruh anak-anak untuk berkumpul dengab kelompoknya masing-masing. Tutut pun menuju kelompoknya, kemudian ia menyiapkan peralatan untuk memasang tenda bersama kelompoknya. 
Di tempat lain Putri merasa sakit hati dengan sikap Tutut yang tidak mau duduk dengannya. Ia pun merencanakan sesuatu untuk membalas Tutut. Putri kemudian mengajak teman-temannya untuk mengerjai Tutut. Mereka berkumpul, namun di saat yang bersamaan Tutut berjalan di depan mereka. Tutut bermaksud hendak menanyakan tentang yang di dalam bus tadi. Namun, tak di sangka Putri malah memalingkan wajahnya seakan tak mau berhadapan dengan Tutut. Tututpun merasa sedih dengan sikap sahabatnya ini. Namun, ia tetap tidak membenci Putri karena ia percaya suatu saat semuanya akan kembali lagi. 
Putri pun melaksanakan rencananya  untuk mengerjai Tutut. Awalnya Putri berpura-pura baikan dengan Tutut. Tutut dengan polosnya langsung mengiyakan niat Putri itu. Tutut pun merasa gembira. 
"Tut kita ke danau yuk?" ajak Putri
"Ngapain?" tanya Tutut
" Ayolah Tut, aku dengar di danau kita bisa melihat sunset yang indah" jawab Putri dengan sedikit paksaan 
"Baiklah" jawab Tutut
"Horeeeeee" sorak Putri dengan senyuman di wajahnya
Ditengah jalan ketika ke danau. Putri tiba-tiba menarik  alat bantu dengar Tutut dari telinga. Tutut pun terkejut dan tidak menyangka. Putri membanting alat bantu pendengarannya. Tutut hanya bisa meratapi alat bantu dengarnya yang telah terbagi menjadi dua. Putri hanya menatap sinis kepada Tutut dan tidak merasa bersalah atas perlakuan yang ia lakukan. Tutut mengambil alat bantu dengarnya kemudian berlari kembali ke perkemahannya. 
Ia kemudian duduk di bawah sebuah pohon rindang yang besar. Di depannya mengalir aliran sungai kecil yang bening dan jernih. Ia menangis tersedu-sedu. Kemudian ia menatapi sungai tersebut. Ia iri dengan sungai tersebut yang terus saja mengalirkan airnya dengan jernih di saat hatinya sedang tidak bening. 
Ia melempar alat bantu pendengarannya yang rusak itu ke sungai. Tiba-tiba muncul seorang teman laki-lakinya ke sungai. Laki-laki tersebut mengambil alat bantu yang telah di buang ke sungai tersebut. Namun Tutut tak menyadarinya. Laki-laki itu mendekati Tutut. Kemudian duduk di sampingnya. Tutut pun terkejut dan menoleh ke arah laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut memberikan earphone kepada Tutut. Kemudian ia menyetel sebuah lagu gembira. Tutut pun ikut mendengarkannya dengan senang. 
Setelah lagu itu selesai diputar ia berkata " Jangan bersedih lagi, kamu harus tetap bahagia. Karena menjadi minoritas itu tidaklah mudah. Semangat dan jangan putus asa. Ingatlah Allah selalu bersama kita." Tutut hanya menatap laki-laki tersebut dengan kagum. Tiba-tiba laki-laki tersebut meninggalkan dirinya. Tutut pun bangkit lagi kemudian ia kembali ke perkemahan. Di sana ia bertemu dengan Putri. Namun, tak disangka Putri mendekatinya dengan menangis terisak-isak. Putri pun meminta maaf kepada Tutut. Putri menjelaskan apa yang membuatnya seperti itu. Ternyata itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. 
Tutut merasa terharu dengan Putri. Kemudian Tutut memaafkan sahabatnya itu. Tak lupa Tutut pun juga meminta maaf kepada Putri. Akhirnya, mereka telah akur kembali dan berjanji akan terus bersama dalam suka maupun duka. Mereka juga akan selalu terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.